Kamis, 25 Februari 2016

Happy B'day Suamiku yang ke 29... Happy Birthday Istriku yang ke 26...


Alhamdulillah Februari 2016 ini indah. Memberi surprise kecil untuk suami dan sumi memberi surprise kecil untuk saya. Bulan lahir kita berdua sama, Alhamdulillah. Tahun lalu masih berstatus karyawan, tahun ini berstatus ibu rumah tangga. Semoga kami bisa jadi suami istri yang soleh solehah dan kelak menjadi ayah bunda yang soleh solehah. 

Terima kasih untuk setiap ucapan dan doanya. Terima kasih untuk kebahagiaan kecilnya.

Jumat, 05 Februari 2016

Karir atau Keluarga?

Bahagia itu saat kita sebagai istri bisa mempersiapkan pakaian kerja suami setiap hari, bisa mencium tangan suami sebelum berangkat kerja, bisa menyiapkan makanan untuk suami saat pulang kerja.

Eh sayang loh lulusan Telkom Bandung jadinya nganggur sia2 dong ilmunya. Posisinya di bank kemaren kan udah bagus itu, sayang banget. Ihh sayang banget kan lumayan gaji segitu. Dan berbagai jenis sayang2 yang lain 😅😆

Kuliah itu menuntut ilmu bukan semata2 diniatkan karena ingin mendapatkan kerjaan kelak. Tapi niatkan kita adalah manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya setelah kuliah. Gak munafik sih kalau memang kita mau kerjaan bagus dan posisi bagus di perusahaan orang. Namun ilmu yang didapat ndak sia2 kok, kan ilmu yang didapatkan saat kuliah juga bisa diajarkan kepada anak sendiri nanti. Bukankah ibu adalah madrasah pertama dan yang paling utama bagi anak2nya? 😇
Bukan tidak mau tetap berkarir, tapi kalau dengan berkarir harus membuat saya ketemu suami cuma tiap weekend saja kan sayang juga 😉
Gaji, ngomong masalah gaji nih ye bukankah Allah telah menjanjikan menambahkan rejeki untuk orang yang telah menikah. Yakinlah, rejeki istri itu dititipkan melalui suami.

Ini pilihan saya, saya juga bukan tipe orang yang suka diam saja ndak melakukan apa2. Tunggu waktu, lagi mikir2 lagi kumpulin modal buat bisnis atau bikin karya. Dan alhamdulillah punya suami yang selalu mendukung apapun keputusan istrinya. Kalau sekarang2 sih lagi fokus ke suami dulu masih menikmati masa2 pacaran setelah menikah, maklum sebelum nikah kita berdua kenalnya cuma bentar dan gak pacaran. Jangan ngiri ye 😉😂😛😜

Nikmati hidup, nikmati masa2 indah dengan suami dan keluarga. Karena setiap detik punya moment unik tersendiri. Takut gak ada rejeki? Percaya deh rejeki setelah menikah itu banyak. Ada2 saja cara Allah buat ngasih ke kita. Kuncinya cuma satu selalu bersyukur dan merasa cukup. Jangan minta rejeki lebih, mintalah untuk dicukupkan rejekinya 😊😇😉

Selalu... Alhamdulillah

Sudah beberapa hari ini saya sakit. Ceritanya lagi bed rest. Mood juga lagi naik turun. Ngambekin suami ceritanya hari ini. Tapi tiba-tiba pas pulang kantor sebelum berangkat ke mesjid buat solat Jumat diletakinlah dimeja katalog Jafra ku sama orderan teman sekantornya. Eh ditambah secarik kertas dan semangkuk bakso. Saya pikir kertas itu list orderan ternyata ada tulisan yang bikin cekikikan sendiri.

Alhamdulillah lagi... lagi... dan lagi...
Rejeki hari ini double. Dan pastinya rejeki yang tak ternilai adalah suami baik dan soleh. Terima kasih banyak suamiku tersayang untuk sikap sabarnya dalam membimbing dan menasehati istrinya yang masih berpola pikir anak-anak 😆
Keep romantic yah suamiku sayang 😘

Selasa, 02 Februari 2016

Serumah dengan mertua? Katanya vs Kataku

Sebelum menikah dulu sempat banyak "katanya" yang saya dengar. Katanya yang paling sering adalah tinggal serumah bareng mertua itu gak enak. Katanya kebanyakan gak cocoknya kalau tinggal sama mertua. Apalagi perhatian suami terbagi antara orang tuanya dan istrinya. Katanya lagi kalau tinggal sama mertua bakalan serasa jadi pembantu. Katanya juga nih kalau tinggal serumah sama mertua nanti keuangan dikendalikan sama mertua. Dan masih banyak katanya yang lain.

Ngeri juga sih dengar semua itu. Pada saat ta'aruf dengan suamiku dulu ibunya langsung bilang kalau nanti saya harus tinggal sama ibunya. Karena semenjak ayah (almarhum mertua) tidak ada mereka hanya berdua. Dengan ucapan bismillah dan yakin ini yang terbaik saya setuju. Dalam proses persiapan pernikahan makin banyak katanya itu yang muncul. Sempat takut, sempat kuatir juga sih. Tapi saya mah pasrah dan ikhlas apapun yang Allah pilihkan.

Singkat cerita setelah menikah saya tinggal dirumah mertua. Alhamdulillah segala "katanya" itu tak ada yang benar. Hampir 2 bulan saya tinggal serumah bertiga bareng ibu mertua, Alhamdulillah semuanya baik2 saja.

Kalau katanya tinggal sama mertua itu gak enak, saya bilang nih yah tinggal sama mertua itu enak banget. Serasa berada dekat ibu kandung sendiri. Apalagi saat saya sakit perhatiannya ibu mertua itu luar biasa baiknya. Malah mau tanya saya mau dibuatkan bubur atau tidak, minum obat dan sebagainya.

Kalau katanya tinggal bareng mertua kebanyakan gak cocoknya. Kalau kataku mah cocok-cocok ajah. Mungkin nih yah yang bilang gak cocok karena sama-sama mentingin ego. Yah namanya juga manusia, sama orang tua kandung sendiri saja kita kadang gak sepaham apalagi kalau kita serumah dengan orang yang hitungannya baru kita kenal. Makanya posisikan diri kita pada porsinya. Mau cocok sama mertua? Gampang, posisikan diri kita sebagai anak dan posisikan mertua kita sebagai orang tua kita. Kalau ada kesalahpahaman komunikasikan segera jangan ditunda-tunda. Intinya rasa saling memiliki itu harus ada satu sama lain. 

Katanya sih kalau serumah sama mertua itu perhatian suami terbagi. Makanya jangan nurutin ego. Ini bukan lomba rebutan perhatian. Ingat kodratnya suami juga adalah seorang anak yang kudu mesti wajib berbakti pada kedua orang tuanya. Kalau suami perhatian sama orang tuanya wajar dong. Harusnya bangga punya suami yang ketika sukses dia tidak pernah lupa dengan orang tuanya. 

Katanya kalau tinggal serumah bareng mertua serasa jadi pembantu semua kita yang kerjain. Alhamdulillah saya tidak pernah merasa seperti itu. Dikeluarga ini saya tidak pernah merasa kehilangan kasih sayang seperti layaknya dirumah orang tua sendiri. Malah kami kompak beberes rumah dan masak bareng. Kadang juga ibu marah dan larang saya terlalu sering bersih-bersih. Banyakan disuruh istirahat.

Nah katanya yang terakhir keuangan dikendalikan sama mertua. Mungkin orang yang ngalamin ini karena suaminya dan mertuanya belum paham siapa yang wajib dinafkahi sebagai suami. Alhamdulillah suami saya selalu nyetor utuh gajinya. Habis ngasih ke saya barulah suami minta untuk dikasih ke ibunya. Saya marah? Tidak dong, malah saya senang dan berdoa semoga kelak anak saya bisa seperti ayahnya. Meskipun orang tua ndak pernah meminta pada anaknya untuk dikasih uang. Untuk ditabung dan dikasih ke orang tua saya itu diserahkan kepada saya yang atur sendiri.

Jadi yang katanya saya dengar semua itu saya tepis sendiri. Mungkin yang ngalamin itu semua kurang komunikasi dan belum tau posisi masing-masing. Pernikahan itu bukan mengedepankan ego. Bukan perlombaan. Tapi bagaimana cara kita menempatkan diri sesuai posisi dan porsi masing-masing. Yang paling penting harus punya rasa saling memiliki satu dengan yang lain. Ketika menantu merasa memiliki orang tua lewat mertua maka sudah pasti dia akan tau bagaimana caranya berbakti. Begitupun dengan mertua ketika ada rasa memiliki seorang anak lagi lewat menantu maka sebagai mertua akan tau bagaimana dia harus bersikap kepada menantu layaknya anaknya sendiri. Kesalahpahaman sedikit itu wajar karena sulit menyatukan pendapat beberapa kepala. Yang terpenting jangan sampai ada dendam. Belajarlah menerima pendapat dan memaafkan. Namanya orang tua wajarlah kalau kadang marahin anaknya atau nasehatin. Tugas kita sebagai anak adalah cukup mendengarkan.

Nah bagi yang belum nikah dan nanti suami ajak tinggal sama orang tuanya ndak usah takut. Seru kok tinggal sama mertua. Jadinya kita bisa berbakti tidak hanya kepada kedua orang tua kita sendiri. Ingat yah, pernikahan itu bukan hanya menyatukan aku dan dia melainkan menyatukan keluarga aku dan keluarga dia. Sehingga tak ada lagi kata keluargaku, keluargamu. Yang ada hanyalah keluarga kita.

Senin, 30 November 2015

Yang Terbaik


Tak ada kasih yang sehangat kasihnya...
Tak ada cinta seabadi cintanya...
Dalam diamnya ada peduli...
Dalam tegasnya ada kekuatan...
Dalam amarahnya ada rasa kuatir yang tak terkira......
Dalam cueknya ada kekepoan yang tak terelakkan...

Belajar sulitnya hidup...
Belajar tangguhnya berjuang...
Belajar untuk tak mudah menyerah...
Belajar untuk kuat meski sulit...
Belajar untuk tersenyum meski terjatuh berkali-kali...
Semua pelajaran hidup darinya...
Belum sempat membalas segalanya...
Belum sempat mengobati kerinduan setelah ditinggal putrinya merantau, kini beliau harus melepaskan kembali...
Baginya... Sedewasa apapun putrinya, dia tetap putri kecilnya yang tak bisa apa-apa...
Terima kasih telah memberikan yang terbaik...
Dan tetaplah jadi yang terbaik untuk kami
‪#‎mamatetta

Kamis, 12 November 2015

Siapa dia?

Akhir2 ini orang disampingku ini yang selalu jadi bahan pertanyaan. Kok bisa sama dia? Kenal dimana? Kenal gak lama kok mau langsung diajak nikah? Dan sederet pertanyaan sejenisnya. Kadang capek juga dengernya, karena selalu ada kalimat2 penyambung lain dari mereka yang sedikit tak mengenakkan hati.

Teman untuk segala pertanyaan kalian saya cuma mau bilang itulah Rahasia Allah. Jodoh tak pernah bisa kita prediksi. Kita cuma bisa memperbaiki diri dan terus berdoa. Tak butuh waktu lama bagi Allah untuk menyatukan seseorang yang awalnya tak saling kenal, begitupun sebaliknya. Allah pernah memberitahu rasa sakit melepaskan sesuatu yang begitu lama digenggam. Namun dengan waktu indahNya Allah mengganti dengan sesuatu yang jauh lebih indah. Mau minta jodoh? Rayu Allah Sang Pemilik Hati. Mau jodoh yang baik? Teruslah berproses untuk memperbaiki diri. Setelah bertemu, jaga dengan baik jadilah yang terbaik. 

Tak perlu risau, tak perlu kuatir. Belajarlah terus untuk memasrahkan segalanya, bukan memaksakan semuanya. Karena apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Because Allah is the best planner ever

4 Oktober-1 November-4 Desember 2015

Allah mengerti doa kita.
Bahkan, ketika kita tak punya kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Disanalah Allah mendengar dengan cara terbaikNya yang tak pernah bisa kita bayangkan. Dan semua akan sempurna di titik yang tak bisa kita duga.
Alhamdulillah ala kulli haal.